Sejarah

By Team IT Al-Burhany 07 Apr 2014, 13:10:57 WIB

Kelahiran Pendiri Pondok Pesantren Assalafiyyah

BIOGRAFI AL-MAGHFURLAH KH.HAMBALI

Kiyai Hambali, begitu panggilan akrab masyarakat kepada beliau. Sebuah title masyarakat jawa yang diberikan kepada seorang ahli agama, seorang yang mempunyai kelebihan atau orang yang disepuhkan.

Lahir di Blok pekauman Desa Bode lor Kecamatan Plumbon Kabupten Cirebon pada tahun 1936 anak terahir dari pasangan Kiyai Burhan dan Nyai Mariyah dari lima bersaudara :

1.         Hj. Murni

2.         Mbok Mino Amini

3.         Wa Uno

4.         Sayuthi

5.         KH.Hambali

Hj. Thoyyibah H yang biasa dikenal dengan panggilan akrab Ang Nok pernah menceritakan melalui WhatsApp bahwa nama Hambali sebenarnya bukan nama pemberian orang tua beliau, melainkan nama pemberian dari kiyai sepuh pesantren Babakan Ciwaringin (KH. Sanusi) ketika beliau mesantren di sana. Nama asli pemberian orang tua kepadanya adalah “Tobos”. Pemberian nama baru oleh KH. Sanusi ini dimungkinkan karena beliau melihat potensi keulamaan yang nampak dalam dirinya. Sehingga untuk menjadi orang besar namanya perlu disesuaikan.

Sampai buku ini ditulis, hanya tahun kelahiran yang berhasil penulis dapat dari obrolan langsung dengan almaghfurlah dua hari sebelum meningal. Sementara jam, tanggal dan hari kelahirannya belum diketahui secara persis. Hal ini dimungkinkan karena orang orang tua zaman dulu mempunyai cara sendiri untuk menandai kelahiran seseorang, bukan dengan tanggal tetapi mengaitkannya dengan kejadian kejadian bersejarah, seperti zaman belanda, zaman Gestapu, zaman jepang, tahun gajah dan kejadian kejadian lainnya.

Kerabatnya memangil beliau dengan panggilan beragam. Diantara mereka ada yang memanggil mamang Bali (mamang berarti paman Bali merupakan kependekan dari Hambali), panggilan mamang yang semula hanya digunakan oleh ponakan ponakan, tetapi akhirnya populer juga diluar mereka. Anak anaknya memanggil dengan mamo, santri memanggilnya romo yai, ada juga yang memanggilnya Mamo, sementara masyarakat lebih akrab dengan panggilan Kiyai Hambali.

Sebutan “Ki” di depan namanya merupakan julukan khas yang lekat dan sudah menjadi bagian dari namanya, julukan ini juga yang membedakan dirinya dengan Hambali yang lain.  Ketika seseorang di Cirebon umumnya dan di Plumbon khususnya mendengar nama Ki Hambali, maka yang dimaksud adalah kiyai Hambali bin Burhan Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Bode lor Plumbon Cirebon, bukan Hambali yang lain.

Ada satu sumber yang mengatakan bahwa silsilah Hambali muda bertemu dengan seseorang yang bernama Buhasan (mungkin berasal dari Abu Hasan. red) di desa gesik Weru Cirebon.

Abu hasan adalah seorang keturunan arab (satu pendapat mengatakan,dia adalah Habib) yang berprofesi sebagai pedagang yang sering berpindah pindah dari satu daerah ke daerah lain. Ketika menetap di desa gesik Plered, Abu Hasan menjalin rumah tangga dengan seorang gadis dan sempat mendirikan pesantren di daerah ini. Sampai sekarang peninggalan pesantren rintisan Abu Hasan masih bisa kita lihat di Gesik Plered. Dari perkawinannya ini lahirlah Burhan (ayah Ki Hambali). K. Burhan kemudian menikah dengan Ny.Mariyah